LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA
FARMASI
PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
Disusun Oleh :
Nama :
Katarina Arianti B.R.
No. Mahasiswa : 13.0356
Tanggal
Praktikum : 30 September 2014
Hari : Selasa
Dosen Pembimbing : Margareta Retno P., M.Sc., Apt
Fransiska Ayuningtyas W., M.Sc., Apt
LABORATORIUM
FISIKA FARMASI
AKADEMI FARMASI
THERESIANA
SEMARANG
2014
PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
(Air, Etanol, Aseton, Air Es)
I.
Tujuan
Mahasiswa dapat menentukan kerapatan dan
bobot jenis bermacam – macam zat (air, etanol, aseton, air es).
II.
Dasar Teori
Kerapatan merupakan massa per unit volume suatu zat
pada temperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang
paling sederhana dan sekaligus merupakan salah satu sifat fisika yang paling
definitif, dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan kemurnian suatu
zat. (Martin,1993)
Suatu rapatan diperoleh dengan membagi massa suatu objek dengan
volumenya:
(d) = massa (m)
Volume (V)
Sifat ekstensif
adalah suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang
diselidiki. Sifat ekstensif meliputi massa maupun volume. Sifat intensif adalah
suatu sifat yang tidak tergantung pada jumlah bahan. Rapatan merupakan
perbandingan antara massa dan volume. Sifat – sifat intensif umumnya dipilih
oleh para ilmuwan untuk pekerjaan ilmiah karena tidak tergantung pada jumlah
bahan yang sedang diteliti. (Martin, 1990)
Perbandingan yang
dinyatakan dalam decimal, dari berat suatu zat terhadap berat dari standar
dalam volume yang sama kedua zat mempunyai temperature yang sama atau
temperature yang telah diketahui disebut rapat jenis. Air digunakan untuk
standar untuk zat cair dan padat, hydrogen atau udara untuk gas. Dalam dunia farmasi,
perhitungan bobot jenis terutama menyangkut cairan, zat padat dan air merupakan
pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai standar karena mudah didapat dan
mudah dimurnikan. (Lachman, 1994)
Bobot jenis
suatu zat merupakan perbandingan antara bobot zat terhadap air volume sama yang
ditimbang di udara pada suhu yang sama. Penetapan bobot jenis digunakan hanya
untuk cairan, kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada perbandingan bobot zat
di udara pada suhu 25° C terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis adalah
perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang telah ditetapkan terhadap bobot
air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25°C zat berbentuk padat, tetapkan bobot
jenis pada suhu yang telah tertera pada masing – masing monografi, dan mengacu
pada air pada suhu 25°C.
(Depkes RI, 1995)
Tabel Kerapatan Air (Depkes RI,1995)
Suhu (°C)
|
Bobot per liter
air (gr)
|
20
25
30
|
997,18
atau 0,99718 ml
996,02
atau 0,99602 ml
994,62
atau 0,99462 ml
|
Titik Beku dan Titik Didih
Zat
|
Titik Beku
|
Titik Didih
|
Etanol 70%
Aseton
|
- 114,49 °C
- 94,82 °C
|
78,4°C
56,53°C
|
Bobot jenis (Depkes RI,1995)
Etanol 70% : 0,8860 – 0,8883
Aseton : tidak lebih dari 0,789
III.
Alat dan Bahan
Alat:
1. Neraca Elektrik merk (“ KERN EMB 500-1”)
2. Piknometer dengan termometer merk (“ Brand Duran Germany ”)
3. Tissue
4. Baskom (“SAP Quality”)
5. Beaker glass (“ PYREX “)
Bahan:
1. Air
2. Etanol 70%
3. Aseton
4. Air Es
IV.
Cara Kerja
o
Penentuan
volume piknometer pada suhu percobaan
Ditimbang
piknometer kosong yang bersih dan kering dengan seksama.
¯
Diisi piknometer
dengan air hingga penuh, lalu rendam dalam air es hingga suhu ± 2°C di bawah suhu percobaan yaitu 25°C.
¯
Diangkat dari air
es biarkan pipa kapiler
terbuka dan suhu air naik sampai mencapai suhu percobaan(25°C) lalu tutup pipa kapiler piknometer.
¯
Dibiarkan suhu air
dalam piknometer mencapai suhu kamar (27°C). Air yang
menempel diusap dengan tissue, timbang piknometer dengan seksama.
¯
Dilihat dalam
tabel berapa kerapatan air pada suhu percobaan yang digunakan untuk menghitung
volume air = volume piknometer
¯
Cara perhitungan :
Bobot piknometer + air = A (gram)
Bobot piknometer kosong = B (gram) –
Bobot air =
C (gram)
Kerapatan air pada suhu
percobaan (tabel) = r air
Volume piknometer = C (gram)
r air (gram / ml)
o
Penentuan kerapatan dan berat jenis zat cair
( etanol 70%)
Lakukan pengukuran etanol 70%
dengan menggunakan
piknometer yang sama seperti pada percobaan A. Misal bobot zat X = D (gram)
¯
Bobot
piknometer kosong = B (gram)
¯
Volume piknometer = Vp (ml)
¯
Kerapatan air pada
suhu percobaan (tabel) = r air
¯
Kerapatan etanol
dihitung dengan cara :
r = D
- B (gram)
Vp (ml)
= ......... gram. ml-1
¯
Berat jenis etanol 70% dihitung dengan cara
:
d = r etanol
r air
¯
Ditentukan kerapatan dan bobot jenis aseton dan air es,
dengan cara yang sama di atas.
c). Penentuan kerapatan dan berat jenis zat
padat yang kerapatan dan berat jenisnya lebih besar dari air
Lakukan
penimbangan zat padat (misal gotri) yang akan ditentukan kerapatannya dengan seksama.
Misal bobot = X (gram)
¯
Masukkan gotri
tersebut dalam piknometer, isi piknometer dengan air hingga penuh. Tutup
piknometer dan cairan yang menempel usap dengan tissue. Lakukan penimbangan
dengan memperhatikan suhu percobaan sama seperti percobaan A. Misal bobot = Y (gram)
¯
Bobot
piknometer kosong = B (gram)
¯
Bobot air = C
(gram)
¯
Kerapatan air pada
suhu percobaan (tabel) = r air
¯
Kerapatan gotri
dihitung dengan cara :
Bobot piknometer + gotri + air = Y (gram)
Bobot gotri =
X (gram)
Bobot piknometer + air (Y – X) = Z (gram)
Bobot air (Z – B) = W (gram)
Bobot air yang ditumpahkan (C – W) = Q (gram)
Volume air yang ditumpahkan = volume gotri (ml)
V gotri = Q
(gram)
r air (gram / ml)
¯
Kerapatan gotri dihitung
dengan cara :
r gotri = Bobot gotri / X (gram)
Volume gotri / V gotri (ml)
¯
Berat jenis gotri dihitung
dengan cara :
d gotri = r gotri
r air
d). Penentuan kerapatan dan berat jenis zat
padat yang kerapatan dan berat jenisnya lebih kecil dari air
Paraffin
Cairkan Paraffin, masukkan gotri ke dalamnya dan
biarkan memadat.
¯
Ratakan paraffin yang menempel pada gotri
supaya membentuk bulatan, sehingga bisa dimasukkan ke dalam piknometer.
¯
Timbang Paraffin + gotri dengan seksama = E
(gram)
¯
Masukkan gotri + paraffin ke dalam piknometer, isi air ke dalamnya hingga
penuh dan tutup. Usap air yang menempel dengan tissue, lalu rendam dalam air es
hingga suhu ± 2°C di bawah suhu percobaan.
¯
Tutup piknometer, biarkan pipa
kapiler terbuka dan suhu air naik sampai mencapai suhu percobaan lalu tutup
pipa kapiler piknometer.
¯
Biarkan suhu air dalam
piknometer mencapai suhu kamar. Air yang menempel diusap dengan tissue, timbang
piknometer dengan seksama.
¯
Bobot piknometer
kosong = B (gram)
¯
Bobot air = C
(gram)
¯
Bobot gotri = X (gram)
¯
Kerapatan air pada suhu
percobaan (tabel) = r air
¯
Kerapatan paraffin dihitung dengan
cara :
Bobot paraffin + gotri + piknometer
+ air =
F (gram)
Bobot paraffin + gotri =
E (gram) -
Bobot piknometer + air =
D (gram)
Bobot piknometer kosong =
B (gram) -
Bobot air =
M (gram)
Bobot air yang ditumpahkan (C – M) =
L (gram)
Volume air yang ditumpahkan = Volume Paraffin
V paraffin =
L - V gotri
r air
= K (ml)
Bobot paraffin (E – X) = J (gram)
¯
Kerapatan Paraffin / r paraffin = J
(gram)
K (ml)
¯
Berat jenis Paraffin dihitung dengan cara :
d paraffin = r paraffin
r air
V. HASIL
DAN PENGOLAHAN
Data Percobaan Penentuan Kerapatan Dan
Bobot Jenis
Piknometer
1
a.
Penentuan volume piknometer pada suhu percobaan
Bobot piknometer + air = 56,15 g
Bobot piknometer kosong = 31,42 g –
Bobot air = 24,73 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL (FI IV hal. 1221)
Volume piknometer (Vp) = bobot
air
r air
=
= 24,8288 mL
r air =
=
= 0.99602 gram/mL
b.
Penentuan
kerapatan zat cair (Etanol 70% dan aseton)
1) ETANOL 70%
Bobot piknometer + etanol 70% = 53,76 g
Bobot piknometer kosong =
31,42 g
Bobot etanol 70% = 22,34
g
Volume piknometer (Vp) = 24,8288 mL
Kerapatan air pada suhu percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan etanol (r etanol 70%) = bobot etanol 70%
Vp
=
= 0,8997 gram/mL
Berat jenis etanol 70% (d) =
=
= 0,9034
2)
ASETON
Bobot piknometer + aseton = 50,97 g
Bobot piknometer kosong = 31,42 g
Bobot aseton =
19,42
Volume piknometer (Vp) =
24,8288 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan aseton (r aseton) = bobot
aseton
Vp
=
= 0,7874 gram/mL
Berat jenis aseton =
=
=
0,7905
3) Air Es
Bobot piknometer + air
es =
56,23 g
Bobot piknometer kosong = 31,42 g
Bobot air es =
24,81 g
Volume piknometer (Vp) =
24,8288 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan air es = bobot
air es
Vp
=
= 0,9992 gram/mL
Berat jenis =
=
= 1,0032
Piknometer 2
·
Penentuan
volume piknometer pada suhu percobaan
Bobot piknometer + air = 57,62 g
Bobot piknometer kosong = 33,18 g –
Bobot air = 24,44 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL (FI IV hal. 1221)
Volume piknometer (Vp) = bobot
air
r air
=
= 24,5376 mL
r air =
=
= 0.99602 gram/mL
·
Penentuan
kerapatan zat cair (Etanol 70% dan aseton)
o ETANOL 70%
Bobot piknometer + etanol 70% =
55,36 g
Bobot piknometer kosong = 33,18 g
Bobot etanol 70% =
22,18 g
Volume piknometer (Vp) = 24,5376 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan etanol (r etanol 70%) = bobot etanol 70%
Vp
=
= 0,9039 gram/mL
Berat jenis etanol 70% (d)
=
=
= 0,9075
o
ASETON
Bobot piknometer + aseton = 52,72 g
Bobot piknometer kosong = 33,18 g
Bobot aseton =
19,54
Volume piknometer (Vp) =
24,5376 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan aseton (r aseton) = bobot
aseton
Vp
=
= 0,7963 gram/mL
Berat jenis aseton =
=
=
0,7995
o
Air Es
Bobot piknometer + air
es =
58,14 g
Bobot piknometer kosong = 33,18 g
Bobot air es =
24,96 g
Volume piknometer (Vp) =
24,5376 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan air es = bobot
air es
Vp
=
= 1,0172 gram/mL
Berat jenis =
=
= 1,0212
Data Kelompok 3
c.
Penentuan kerapatan zat cair
a. Penentuan volume piknometer 1 pada suhu
percobaan
Bobot piknometer + air = 58,07 g
Bobot piknometer kosong = 33,01 g –
Bobot air =
25,06 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/ml (FI IV hal. 1221)
Volume piknometer (Vp) = bobot air
r air
=
= 25.16 mL
r air =
=
= 0.99602 gram/mL
b. Penentuan kerapatan zat cair (Kloroform)
Bobot
piknometer kosong = 33,01 g
Bobot piknometer + kloroform = 64,31g
Bobot kloroform = (bobot piknometer kosong + kloroform) – bobot
piknometer kosong
= 64,31 g – 33,01 g
= 31,1 g
Volume
piknometer (Vp) = 25,16 mL
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/mL
Kerapatan
kloroform (r kloroform) = bobot kloroform
Vp
=
= 1,2361 gram/mL
Berat jenis
kloroform (d) =
=
=
1,2410
c. Gotri 1
Bobot piknometer + gotri + air = 58,08 g
Bobot piknometer kosong = 33,01 g
Bobot zat padat = 0,12 g
Bobot piknometer + air = (bobot piknometer + gotri + air) – bobot
gotri
= 58,08 g – 0,12 g
= 57,96 g
Bobot air = (bobot piknometer + air) – bobot
piknometer kosong
= 57,96 g – 33,01 g
= 24,95 g
Bobot air yang ditumpahkan = bobot air (penuh) – bobot air
= 25,05 g – 24,95 g
= 0,11 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air =
0,99602 g/mL
Volume air yang ditumpahkan = volume gotri (mL)
V gotri
= bobot
air yang ditumpahkan
r air
=
= 0,1104 mL
Kerapatan gotri (r gotri ) = Bobot gotri
Volume
gotri
=
= 1,087 g/mL
Berat jenis gotri (d ) = r gotri
r air
= 1,087 g/ml
0,99602 g/ml
= 1,0913
d. Penentuan Kerapatan Zat Padat yang
Kerapatannya lebih besar daripada air (Gotri)
1)
Penentuan volume piknometer 2 pada suhu percobaan
Bobot piknometer + air = 58,78 g
Bobot piknometer kosong = 33,99 g –
Bobot air =
24,79 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air = 0,99602 g/ml (FI IV hal. 1221)
Volume piknometer (Vp) = bobot air
r air
=
= 24,88 mL
r air =
=
= 0.99602 gram/mL
2)
Gotri 2
Bobot piknometer + gotri + air = 58,79 g
Bobot piknometer kosong = 33,99 g
Bobot zat padat = 0,13 g
Bobot piknometer + air = (bobot piknometer + gotri + air) – bobot
gotri
= 58,79 g – 0,13 g
= 58,66 g
Bobot air = (bobot piknometer + air) – bobot
piknometer kosong
= 58,66 g – 33,99 g
=
24,67 g
Bobot air yang ditumpahkan = bobot air (penuh) – bobot air
= 24,79 g – 24,67 g
= 0,12 g
Kerapatan air pada suhu
percobaan = r air =
0,99602 g/mL
Volume air yang ditumpahkan = volume gotri (mL)
V gotri
= bobot
air yang ditumpahkan
r air
=
= 0,1205 mL
Kerapatan gotri (r gotri ) = Bobot gotri
Volume
gotri
=
= 1,0788 g/mL
Berat jenis gotri (d ) = r gotri
r air
= 1,0788 g/ml
0,99602 g/ml
= 1,0831
e. Penentuan
kerapatan dan berat jenis zat padat yang kerapatan dan berat jenisnya lebih
kecil dari air
3)
Cera
Bobot piknometer + air +
gotri +cera =
58,78 g (F)
Bobot piknometer kosong = 33,99 g (B)
Bobot air1 =
24,79 g (C)
Bobot gotri + cera = 0,14 g (E)
Bobot gotri = 0,13 g (X)
Bobot pikno + air (D) = (F-E = 58,78- 0,14 =58,64 g)
Bobot air2 = D-B
= 58,64 g - 33,99g
= 24,65 g
Kerapatan air pada suhu percobaan = r air = 0,99602 g/ml
Volume air yang ditumpahkan = bobot air 1 - bobot air 2
= 24,79 g – 24,65 g
=
0,14 g
V cera =
bobot air tumpah - Vgotri
r air
= 0,14 g– 0,1205
0,99602 g/ml
= 0,0195 mL
Bobot cera = 0,14 g – 0,13 g
= 0,01 g
Kerapatan cera =
bobot cera Volume cera
= 0,01 g
0,0195 mL
=
0,5128 g/mL
Berat jenis cera (d cera) = r cera
r air
= 0,5128
g/ml
0,99602 g/ml
= 0,5148
4)
Paraffin Padat
Bobot piknometer + air +
gotri +parafin = 58,05 g (F)
Bobot piknometer kosong = 33,01 g (B)
Bobot air1 =
25,06 g (C)
Bobot gotri + parafin = 0,17 g (E)
Bobot gotri = 0,12 g (X)
Bobot pikno + air (D) = (F-E = 58,05- 0,17 =57,91 g)
Bobot air2 = D-B
= 57,91 g - 33,01 g
= 24,87 g
Kerapatan air pada suhu percobaan = r air = 0,99602 g/ml
Volume air yang ditumpahkan = bobot air 1 - bobot air 2
= 25,06 g – 24,87 g
=
0,19 g
V paraffin =
bobot air tumpah - Vgotri
r air
= 0,19 g– 0,1104
0,99602 g/ml
= 0,0799 mL
Bobot paraffin = 0,17 g – 0,12 g
= 0,05 g
Kerapatan paraffin = bobot paraffin Volume parafin
= 0,05 g
0,0799 mL
=
0,6257 g/mL
Berat jenis paraffin (d paraffin) = r paraffin
r air
= 0,6257
g/mL
0,99602 g/mL
= 0,6282
DATA HASIL PRAKTIKUM
Bahan
|
Kerapatan
|
Bobot Jenis
|
Literatur
(FI 4)
|
Penyimpangan (%)
|
Etanol 70%
|
0,8997 g/mL
0,9039 g/mL
|
0,9033
0,9075
|
0,812-0,816
|
10,69-11,24
11,2-11,76
|
Aseton
|
0,7874 g/mL
0,7963 g/mL
|
0,7905
0,7995
|
0,789
|
0,19
1,33
|
Kloroform
|
1,2361 g/mL
|
1,2410
|
1,476-1,480
|
(-15,92)-(-16,14)
|
Air Es
|
0,9992 g/mL
1,0172 g/mL
|
1,0032
1,0212
|
-
|
-
|
Paraffin
|
0,6257 g/mL
|
0,6282
|
0,87 – 0,89
|
(-27,79)-(-29,4)
|
Gotri
|
1,087 g/mL
1,0788 g/mL
|
1,0913
1,0831
|
-
|
-
|
Cera
|
0,5128
|
0,5148
|
0,95
|
- 45,8
|
Cara Perhitungan Penyimpangan
Penyimpangan=
VI. PEMBAHASAN
Pratikum kali
membahas mengenai kerapatan dan bobot jenis suatu zat. Bobot jenis suatu zat
adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume sama yang ditimbang di udara
pada suhu yang sama (biasanya pada suhu 25°C). Kerapatan adalah massa per unit volume
suatu zat pada temperatur tertentu. Berdasarkan pengertian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa bobot jenis membandingkan
massa jenis zat dengan massa jenis air,sedangkan kerapatan membandingkan massa zat
dengan volume zat tersebut.
Hal ini merupakan perbedaan dari bobot jenis dan kerapatan zat. Air digunakan sebagai standar untuk penentuan kerapatan dan bobot jenis zat cair dan zat padat. Berdasarkan rumus yang ada, bobot jenis dan kerapatan mempunyai nilai yang
hampir sama, hanya berbeda pada adanya satuan atau tidak.
Bahan yang
digunakan dalam praktikum yaitu air, etanol 70%, aseton, kloroform, paraffin,
gotri, dan cera alba. Kerapatan dan bobot
jenis suatu zat atau cairan dalam bidang
farmasi digunakan sebagai salah satu metode analisis yang berperan dalam
menentukan senyawa cair, digunakan pula untuk uji identitas dan kemurnian dari
senyawa obat terutama dalam bentuk cairan, serta dapat pula untuk mengetahui tingkat
kelarutan/daya larut suatu zat, dan juga dapat
mempermudah dalam pembuatan formulasi obat karena dengan mengetahui bobot jenis suatu zat dapat digunakan untuk
mengetahui apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lain.
Alat yang digunakan dalam
pengujian ini adalah dengan piknometer. Piknometer
digunakan untuk mencari bobot jenis. Piknometer biasanya terbuat dari kaca
untuk erlenmeyer kecil dengan kapasitas antara 10ml-50ml. Piknometer
dibersihkan dengan menggunakan aquadest terlebih dahulu untuk melakukan
percobaan penetapan bobot jenis, kemudian dibilas dengan alkohol untuk
mempercepat pengeringan piknometer kosong tadi. Pembilasan dilakukan untuk
menghilangkan sisa dari permbersihan, karena biasanya pencucian meninggalkan
tetesan pada dinding alat yang dibersihkan, sehinggga dapat mempengaruhi hasil
penimbangan piknometer kosong, yang akhirnya juga mempengaruhi nilai bobot
jenis sampel. Pemakaian alkohol sebagai pembilas memiliki sifat-sifat yang baik
seperti mudah mengalir, mudah menguap dan bersifat antiseptikum, jadi sisa-sisa
yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik, baik yang ada di luar, maupun
yang ada di dalam piknometer itu sendiri.
Piknometer kemudian
dikeringkan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan piknometer
pada bobot sesungguhnya. Pengeringan piknometer tidak boleh dikeringkan dengan
menggunakan pemanasan, karena piknometer dapat
memuai dan nantinya dapat mempengaruhi pada saat penimbangan piknometer
dan akan berpengaruh pula pada data percobaan dan hasil perhitungan bobot
jenis. Piknometer ditimbang
kemudian, pada timbangan analitik dalam keadaan kosong, setelah ditimbang dalam keadaan kosong,
piknometer lalu diisikan dengan sampel mulai dengan aquadest, sebagai
pembanding kemudian nantinya dengan
sampel yang lain. Proses pemindahan piknometer harus dengan menggunakan tissue, agar tidak ada
bahan-bahan lain yang menempel pada piknometer yang dapat mengganggu perhitungan.
Penggunaan
piknometer untuk menentukan bobot jenis memiliki beberapa keuntungan yaitu
mudah dalam pengerjaan, tetapi memerlukan waktu yang cukup lama, karena kita
harus menurunkan dan menaikkan suhu percobaan sesuai dengan prosedur agar dapat
memperoleh hasil yang tepat. Percobaan dilakukan pada suhu percobaan adalah 25°C. Berdasarkan prosedur percobaan yang
tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi IV, suhu percobaan harus diturunkan
sampai 20°C, kemudian dinaikkan lagi sampai 25°C dan 27°C, tetapi pada percobaan ini, suhu hanya
diturunkan sampai 23°C, karena jika diturunkan samapi suhu 20°C sesuai yang tertera di FI IV, waktu untuk menaikkan suhu ke suhu
percobaan akan lebih lama.
Pengujian pada
praktikum menghasilkan data bobot jenis aseton lebih kecil daripada etanol 70%.
Hal ini sesuai dengan literature yang menyebutkan bobot jenis etanol 70% adalah
0,812-0,816, sedangkan pada aseton 0,789. Pengujian Air es menunjukan bobot
jenis yang besar bila dibandingkan dengan bobot jenis air dalam suhu normal.
Faktor yang mempengaruhi yaitu sifat dari anomaly air sendiri, yaitu ketika
suhu air diturunkan maka air tersebut akan membentuk es yang berarti memiliki
kerapatan yang lebih besar sehingga bobot jenisnya juga lebih besar daripada
bobot jenis air pada suhu normal. Bobot jenis zat padat seperti paraffin dan
cera adalah < 1, namun hasilnya menunjukan adanya penyimpangan data dengan
literatur. Penyimpangan ini dapat disebabkan karena beberapa faktor,
antara lain :
1. Adanya Kontaminasi
Jika ada
kontaminan yang masuk maka akan mempengaruhi hasil perhitungan kerapatan dan
bobot jenis yang di dapat. Jika semakin banyak kontaminan yang ada pada bahan
percobaan maka penyimpangan yang di hasilkan akan semakin besar.
2. Kemurnian Zat
Kemurnian
zat yang akan diuji akan berkurang jika ada bahan lain yang ikut masuk ke dalam
zat yang akan di uji. Proses
membersihkan piknometer harus diperhatikan apakah sudah benar-benar kering atau belum, jika masih terdapat
air maka akan mempengaruhi kemurniaan zat yang di uji, kemurnian zat akan berkurang dengan adanya
campuran air, semakin banyak air yang tertinggal pada piknometer maka akan banyak pula yang
ikut tercampur pada zat yang di uji dan kemurnian zat uji akan semakin
berkurang.
3. Suhu percobaan
Piknometer
ditimbang pada suhu 27°C di harapkan setelah penurunan suhu, lalu di naikkan pada
suhu 27° embun-embun sisa penurunan suhu sudah tidak ada, jika masih ada sisa-sisa embun akan
berpengaruh pada hasil penimbangan, semakin banyak embun yang tertinggal maka
penyimpangan hasil penimbangan dan hasil perhitungan bobot jenis juga akan
semakin besar.
4. Penimbangan
Timbangan
yang digunakan selama percobaan harus selalu sama dan tidak boleh di
ganti-ganti agar tidak menimbulkan penyimpangan pada hasil percobaan, karena mungkin saja tiap timbangan akan
menghasilkan angka yang berbeda-beda walaupun hanya selisih sedikit tapi
nantinya akan berpenagruh pada hasil perhitungan.
5. Cara pengerjaan
Tekanan
yang diberikan pada saat pemasangan termometer pada piknometer akan berpengaruh
terhapad hasil perhitungan. Jika tekanan yang diberikan semakin besar maka akan
banyak zat yang keluar dari piknometer.
Semakin banyak zat yang tumpah maka akan membuat penyimpanagn semakin besar. Kesalahan yang
dilakukan praktikan seperti tidak sengaja memegang piknometer.
6.
Kebersihan
Piknometer
yang terlalu banyak dipegang dengan tangan akan
meningggalkan residu seperti lemak menempel, sebaiknya piknometer dipegang
dengan tissue.
VII. KESIMPULAN
Setelah
melakukan percobaan ini didapatkan hasil :
- Volume
piknometer pada suhu percobaan adalah
24,8288 mL
- Kerapatan
dan berat jenis zat cair
·
Etanol
70%
ρ Alkohol 70%
= 0,8997 gram/mL
BJ = 0,9034
·
Aseton
ρ Aseton
= 0,7874 gram/mL
BJ = 0, 7905
·
Air es
ρ air es
= 0,9992 gram/mL
BJ= 1,0032
Terdapat penyimpangan hasil dalam percobaan ini. Faktor-Faktor yang dapat
menyebabkan penyimpangan yaitu:
1.
Adanya kontaminan
2.
Kemurnian zat
3.
Suhu
4.
Proses penyimpangan
5.
Cara pengerjaan (tekanan yang diberikan saat pemasangan termometer)
6.
Kebersihan
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1995.Farmakope Indonesia
edisiIV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
: Jakarta.
Martin, A. 1990. Farmasi Fisika. Indonesia University Press : Jakarta
Lachman, L., dkk., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Edisi III, diterjemahkan oleh Siti suyatmi, UI Press,
Jakarta
Semarang, 14 Oktober 2014
Katarina
Arianti
Saya masih bener gak paham cara langkah menghitungnya seperti apa supaya dpt hasil akhirnya itu, bagaimana cara menghitungnya
BalasHapusterimaksih kak, ini sangat membantu :)
BalasHapus